Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

January 06, 2015

review - Kedai 1002 Mimpi by Valiant Budi

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya. Giliran banyak bertanya, diancam mati. Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.
Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?
Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.
Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.
Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.
Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.
Salam damai,
Valiant Budi Vabyo
"Seandainya kita bertumbuh kembang terbiasa melihat perbedaan warna rambut, dialek bahasa, warna mata, mungkin kita akan lebih mudah menerima perbedaan. Atau setidaknya, tidak mempertanyakan kenapa manusia bisa tak sama." (Kedai 1002 Mimpi - hal. 299)
Sebelumnya saya sudah membaca Kedai 1001 Mimpi hasil pinjaman dari Non Inge, dan saya cukup terkesan dengan petualangan Vabyo di Jazirah Arab. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli buku kedua tanpa pikir panjang.  
Buku kedua yang juga diterbitkan oleh Gagas Media ini menceritakan pengalaman Vabyo ketika dia sudah merasa bebas dari mimpi buruk selama ia jadi TKI, tetapi ternyata mimpi-mimpi buruk itu masih ada dan beberapa menjadi teror-teror dalam dunia maya dan lebih buruk lagi teror-teror itu berlanjut di kehidupan nyata. 
Bab awal buku ini menceritakan kelanjutan bab akhir buku pertama, dimana Vabyo akhirnya berhasil meraih kebebasannya dengan berhasil ‘kabur’ ke Bahrain. Bab ini juga mengungkap bagaimana perlakuan para petugas imigrasi Indonesia pada TKI. Perlakuan yang tidak bisa dibilang ramah sebetulnya.
There’s no happily ever after in the real world. 
Secara keseluruhan, buku setebal 384 halaman ini menceritakan kehidupan Vabyo selama kepulangannya ke Indonesia. Beberapa bab berisi tentang ulangan kenangan ketika ia menjadi TKI, beberapa yang lain menceritakan pengalamannya mengikuti kelas self-healing hingga mengkonsumsi obat penenang untuk melepaskan diri dari teror, bab lain bercerita tentang perjalanannya ke beberapa tempat dengan tujuan menenangkan diri dan perjalanannya ke negara-negara Eropa. Beberapa kawan Vabyo yang muncul di buku pertama juga mendapat cerita tersendiri dalam bab yang lain. 
Satu hal yang cukup mengganggu saya ketika membaca, di buku ini Vabyo terkesan nanggung dalam menyampaikan cerita pada setiap bab-nya sehingga cukup membingungkan saya dan membuat bertanya-tanya “Maksudnya dia cerita kayak gini apa sih?” 

Ada satu percakapan yang membuat saya nyengir cukup lebar ketika membacanya,
"Anda siap mati dengan menulis buku ini?"
"Maaf ya, memangnya Anda -yang tidak menulis buku ini- gak akan mati?"
"Public figure apa hell figure lo? Siap siap busuk di neraka!"
"Yah, kalau surga ternyata isinya orang yang senang mencaci, mengutuk seperti Anda, saya juga ogah!" (Kedai 1002 Mimpi - hal. 131).

Jika dibandingkan dengan buku pertama, saya lebih menyukai kisah-kisah Vabyo di buku pertama, sehingga buku ini hanya mendapat 2 dari 5 bintang.


January 14, 2014

review - Bangkok by Moemoe Rizal


“Pembaca tersayang, 
Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu. 
Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.
เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,
EDITOR”


Swasdeekha..
Sebenarnya bukan kata-kata di atas yang membuat saya tertarik untuk membeli novel yang termasuk dalam rangkaian STPC yang digagas oleh Gagasmedia dan Bukune, berjudul Bangkok: The Journal karya Moemoe Rizal yang kurang lebih setebal 436 halaman ini. Sama sekali bukan. Alasan paling utama saya membeli novel dengan cover warna ungu itu adalah karena saya pada saat itu sedang sangat merindukan kota yang dikenal dengan sebutan City of Angels tersebut. Benar saja, ketika saya membuka halaman demi halaman bukunya, saya seperti terseret mesin waktu, menjelajahi lorong-lorong dan setiap sudut kota Bangkok, kota yang pernah menjadi tempat tinggal saya selama kurun waktu enam bulan pada tahun 2012 lalu.
salah satu postcard koleksi saya
doc.pribadi
Kembali ke novel, Bangkok: The Journal bercerita tentang seorang arsitek, Edvan yang telah lama meninggalkan Artika ibunya serta Edvin (atau Edvina) adiknya karena suatu alasan, alasan yang sebenarnya cukup konyol jika dibandingkan dengan alasan kepulangannya kembali. Kepulangan Edvan pun bisa dibilang terlambat sebetulnya karena sang ibu telah meninggal dunia sebelum ia sempat bertemu kembali. Sang ibu meninggalkan warisan berupa rangkaian jurnal yang saling berkaitan yang akan membawa mereka berdua (atau di sini Edvan mengambil peranan lebih banyak) berpetualang di hampir seluruh kota Bangkok.

Jurnal-jurnal Artika, membawa Edvan bertemu dengan orang-orang, dengan kakak-beradik Charm dan Max yang menemani Edvan berkeliling Bangkok, dengan orang-orang yang ada di masa lalu Artika. Orang-orang yang akhirnya menjadi sahabat Artika, yang menyimpan jurnal-jurnal Artika dan menyimpan sosok Artika dalam hati mereka. Noi, Khun Niran, Cinderella, Chang, Apsara, dan Khun Ungsowat. 

Seberang Sungai Chao Phraya
doc.pribadi
Tidak hanya bertemu dengan orang-orang Thailand dengan senyum mereka yang membuat Thailand dikenal sebagai The Land of Smile, kita juga akan dibawa novel ini menjelajah kota Bangkok, belajar beberapa kata dasar Bahasa Thailand, dan bahkan saya bisa membayangkan wanginya Pad Thai (mie goreng khas Thailand) di sini. Saya bisa merasakan dan membayangkan kembali kemegahan bandara Suvarnabhumi, riuh rendah suasana pecinan Samphan Tawong, histeria naik tuk-tuk yang sopirnya ugal-ugalan ngalah-ngalahin bis Restu Panda jurusan Malang-Kediri hahaha, merasakan kembali tiupan angin bercampur percikan air ketika menyusuri sungai Chao Phraya dengan perahu motor, menikmati (saya sih berjengit ketika nonton) pertunjukan Muay Thai (kick boxing ala Thailand), berjalan-jalan di area Grand Palace yang panas dan melihat Wat Pho (patung emas Budha tidur) –waktu itu saya sempet mbatin, apa ya itu beneran emas semua hahahha, hingga menyusuri eksotisme pantai Pattaya di selatan kota Bangkok.

Wat Pho sang Budha Tidur
doc.pribadi
Bagian dalam Dari Grand Palace
doc.pribadi
Semua tempat di novel itu berhasil membuat saya mewek-mewek gak jelas karena kangen kota Bangkok dan mewek lagi karena membaca quote yang ditujukan pada Khun Niran oleh Artika,
Your scar makes you unique. It makes you more valuable than the rest of people with no scar. It’s God’s way to say, ‘You’re my favorite. I make you different so I can always see you wherever you are'.
Bangkok: The Journal juga memaparkan beberapa isu yang mungkin dianggap sebagai hal yang aneh atau tidak pantas jika hal itu terjadi di Indonesia. Seperti isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) dan isu sosial lain seperti isu perusakan lingkungan dan sebagainya.

Anyhoo, sejauh ini hal yang mengganggu saya dalam proses pembacaan adalah kesulitan membaca bagian jurnal-jurnal Artika, karena jurnal-jurnal itu dicetak dengan font tegak bersambung dan background yang terlalu gelap membuat saya harus memicingkan mata dan mengeluarkan usaha lebih untuk membacanya dengan nyaman.

Hal yang mengganggu lain adalah bumbu cintanya agak terasa klise jika dibandingkan dengan hubungan persaudaraan antara Edvan dengan Edvin (Edvina) terlebih setelah Edvan tau kalau Edvin ternyata seorang transgender. Hal ini juga sedikit mengingatkan saya pada teman-teman lab saya di Bangkok dulu, yang sebagian besar gay atau lesbian atau transgender. Pada awalnya saya sulit menerima bahwa LGBT itu benar-benar ada di kehidupan sehari-hari saya. Namun pada perjalanannya, akhirnya saya juga bisa menerima kehadiran mereka, justru mereka lah yang banyak membantu saya ketika saya mengalami kesulitan di lab, mereka juga orang-orang paling fair yang pernah saya temui lepas dari status mereka. Dan lagipula siapakah saya, saya tidak berhak untuk menjustifikasi hidup seseorang hanya karena seseorang itu memilih jalan hidup yang berbeda dengan saya kan?

Pada akhirnya saya melihat Bangkok:The Journal bukan sekedar novel pengisi waktu luang, melainkan sebagai pengingat ketika saya sedang sangat merindukan kota Bangkok dan teman-teman lab saya dengan segala warna mereka.

Empat dari lima bintang untuk Bangkok: The Journal.         
Khop khun mak na kha untuk Moemoe Rizal atas cerita tentang Bangkok yang menawan.